Kami sepakat untuk mengawali cerita ini dengan berkumpul di
kampus agar tidak ada barang yang tertinggal. Setelah pengecekan barang, makan
siang, sholat dzuhur, dan dokumentasi di lakukan, akhirnya kami pergi dengan
berjalan kaki dari student center menuju gerbang untuk naik angkot menuju
Terminal Cicaheum.
Bis berangkat jam 5 sore dan kami sudah berada di terminal
dari jam 3 sore. Cuaca hujan, gerimis, sampai akhirnya berhenti tepat sekitar
jam setengah lima sore saat bis Sinar Jaya berhenti pada tempatnya dan kami pun
mulai berjalan menuju bis tersebut untuk menaruh carrier dalam bagasi dan
menaikinya.
Fyi: tiket bis Bandung-Wonosobo pake Sinar Jaya Rp70.000
Setelah telinga dibuat pusing sama pedagang dodol gorengan
sabuk buku buah sosis pun akhirnya berangkat juga. Bismillah, semoga sampai
tujuan dengan selamat dan gak macet.
Istirahat sekitar jam 10an dan sampai Terminal Wonosobo jam
setengah 3 dengan selamat Alhamdulillah. Walaupun di tengah jalan supirnya
nabrak kucing pas di roda bagian belakang. Gatau deh gimana kelanjutan
ceritanya.
Setelah sampai termianal Wonosobo, kita masak nasi—supaya
pas sampai basecamp kita tinggal masak lauknya aja gitu—dan galama setelah itu,
“Sindoro Sumbing Sindoro Sumbing!” teriakkan knek bis sambil diikuti oleh suara
kendaraan dari arah gerbang masuk terminal. Kami pun segera menghampiri bis
tersebut
“ini mau ke Sindoro mas? Lewat Desa Kledung gak?”
“iyaa mba ayo ayo”
“berangkatnya jam berapa?”
“sekarang ini”
“oooh gak nunggu penuh dulu?”
Kami pun bergegas membereskan nesting dan mengambil carrier.
Bisnya gesit. Satu per satu penumpang mulai masuk sampai
akhirnya “Kledung, mba, Kledung nih Kledung” kneknya memberitau kami sambil
membantu mengangkat carrier yang berada tepat pada bangku bagian belakang.
Fyi: naik bis mini dari Terminal Wonosobo-Desa Kledung
Rp10.000
Ternyata benar, basecamp masih tutup dan kami memutuskan
untuk menggoreng sosis, makan, dan sholat subuh dulu di masjid dekat basecamp.
Waktu buka sepatu dan masuk masjid, kaki berasa ada yang
nusuk-nusuk gitu nembus sampai bagian punggung kaki. Air wudhunya juga terasa
meresap sampai tulang. Gila. Dingin bgt.
Basecamp buka dan kami pun melakukan administrasi. Kami
bertemu dengan 2 orang laki-laki yang berasal dari Kapakata, Yogyakarta. Mas
Rauf dan Mas Nurcahyo, namanya. Lama kami berbincang karena petugas belum
kunjung datang. Sampai kami mendapatkan informasi dari kedua lelaki tersebut
bahwa disana nanti bakalan ada babi dan kayaknya informasi itu hanya masuk
telinga kanan terus keluar lagi lewat telinga kiri. Karena saat kami melakukan
administrasi, petugas tidak memberikan informasi mengenai hal tersebut.
Sambil packing ulang, kami sepakat untuk membuat sup krim,
dan, gak habis, karena, ke, enceran. Sorry not sorry. Semuanya gara-gara aku
sih yang terlalu nurut sama apa kata bungkus sup krim-nya yang bilang harus masukin 3 gelas. Oke skip.
Tentu saja perjalanan kami mulai dari depan basecamp dengan
berjalan kaki.
Jalan, jalan, jalan, jalan, rumah warga, rumah warga, rumah
wara, perkebunan, perkebunan, dan akhirnya kami berhenti di tengah perjalanan
untuk packing ulang karena carrier yang saya gunakan rasanya benar-benar
membuat punggung pegal (re: berat bgt). Perjalanan melewati kebun ini rasanya
seperti sedang berjalan dalam sebuah lukisan. Karena pemandangan belakang kami
adalah Gunung Sumbing yang terlihat full.
![]() |
| Gn. Sindoro |
![]() |
| Gn. Sumbing |
![]() |
| Batu Besar |
Lanjut, lanjut, lanjut, lanjut, dan
akhirnya kami pun sampai di batu besar. Tak berhenti lama, kamipun melanjutkan
perjalanan dan akhirnya sampai di pos 1.
![]() |
| POS 1 |
Fyi: pos 1 ini wujudnya seperti saung ada tempat untuk
duduknya dari tumpukan tanah yang mengeras dan terdapat banyak sampah di
bawahnya. Eww, bikin background foto jadi jelek aja.
Perjalanan dari basecamp menuju pos 1 ini menghabiskan waktu 65 menit.
Melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Tak jauh dari pos 1,
kami menemukan pangkalan ojek dan berhenti sejenak untuk minum dan memotong
batang pohong untuk dijadikan pegangan tangan saat berjalan. Karena medan
menuju pos 2 ini sudah mulai berbeda dengan perjalanan dari basecamp-pos1 yang
jalannya masih landai. Kami lupa berapa kali kami beristirahat untuk duduk
duduk dan minum menuju pos 2 ini, sampai akhirnya kami sampai di pos 2.
![]() |
| POS 2 |
Fyi: pos 2 ini wujudnya sama kaya pos 1 tadi, ada saung dan
banyak sampahnya. Bedanya cuman ada papan penuh dengan coretan gitu di bagian
belakang saungnya.
Perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 ini menghabiskan waktu 90
menit.
Melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Mulai memasuki hutan
yang benar-benar hutan sampai di tengah jalan kami akhirnya beristirahat agak
lama setelah melewati hutan, di tempat sedikit agak luas dan pas belokan
menanjak. Kami memakan nata de coco sambil beristirahat agak lama karena
keadaan sudah semakin drop karena perut kosong dan cape.
Tak lama setelah kami duduk, ada suara seperti sekumpulan
orang yang hendak turun dari atas, dan benar saja, ada banyak orang turun,
berbeda kelompok tapi semuanya berasal dari Yogyakarta.
Dari kelompok pertama yang kami temui
“darimana mas?”
“dari atas”
“huhhhhh? Yakali”
“dari Yogyakarta mba. Mbanya darimana?”
“dari bawah”
“hahahhahaa”
“dari Bandung mas”
Ngobrol-ngobrol-ngobrol-ngobrol-ngobrol-ngobrol
“tadi pagi ke puncak jam berapa mas?”
“jam 6”
“terus sampe jam berapa?”
“cepet kok, sejam doang”
“oooh. Masnya emang ngecamp dimana semalem?”
“kita ngecamp diatas pos 3 mba, soalnya di pos 3 ada babi.
Kemaren aja ada yang diganggu babi malem-malem”
“ohiyaa? Terus gimana?”
“ya gitu aja mereka diacak-acak”
“ooh jadi jangan ngecamp di pos 3 yah?”
“iyaa. Dari pos 3 ini nanti naik lagi aja. Sebelum sampai
pos 4”
“tapi mas, kata mas mas di basecamp kan katanya kita gaboleh
ngecamp ngelewatin pos 3. Soalnya anginnya gede. Gimana?”
“iyaa. Tapi ya kalau ada babi, gimana lagi?”
“tadi malem emang gak ujan?”
“uuuuh. Ujan mba. Gede banget”
“waaah, gaada petir tapi?”
“iyaah gak ada Alhamdulillah.”
“okedeh mas jadi ini ngecampnya jauh-jauh dari pos 3 gitu
yah?”
“iyaa”
Diem-diem-diem-diem-akhirnya
“yok, mba, duluan yaa”
“yoo mas, hati-hati. Makasih yaa”
“monggoooo”
Gak lama kami ditinggal oleh mahasiswa UGM tadi, kemudian
lewat kelompok yang lainnya
“darimana mba?” sapa kami
“dari Yogyakarta. Mbanya?”
“dari Bandung”
“ooh iya, mba, duluan yah”
“iyaa. Hati-hati yaah”
Tampak dari bawah sekelompok lagi masih terdiam di atas.
Sepertinya mereka menunggu kami untuk naik terlebih dahulu. Kamipun naik dan saat bertemu kami mendapatkan informasi
bahwa pos 3 ada di atas, tempatnya gak jauh dari tempat kami berhenti bertemu
dengan kelompok terakhir yang berasal dari Yogyakarta tersebut. Intinya bentar
lagi sampe. Tapi kenyataannya setelah kami jalan-jalan-jalan-jalan, rasanya
jauh bgt, karena jalannya jauh lebih menanjak dari jalan yang sebelumnya dan
medannya sudah berubah menjadi batu-batu besar. Akhirnya kami sampai di tempat
yang luas yang merupakan ciri-ciri dari pos 3.
![]() |
| POS 3 (ini ngambil fotonya pas di ujung jadi gak keliatan luas dan kotornya) |
Fyi: pos 3 ini wujudnya berbeda dengan pos 1 dan pos 2.
Karena pos 3 ini benar-benar tempat khusus untuk camp, luas, tanpa tulisan dan
tanpa saung. Tapi sama seperti pos 1 dan pos 2, pos 3 ini dipenuhi
sampah-sampah. Kuantitasnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan pos 1
dan pos 2.
Perjalanan dari pos 2 menuju pos 3 ini menghabiskan waktu
sebanyak 145 menit.
Mengingat saran dari mahasiswa UGM tadi, tak lama setelah
dokumentasi akhirnya kami melanjutkan perjalanan dan kami memutuskan untuk
berhenti setelah menemukan tempat yang bisa untuk didirikan tenda setelah 30
menit berjalan dari pos 3.
Setelah berhasil mendirikan tenda, hujan pun turun dan
kamipun bergegas memasukan barang-barang ke dalam tenda dan memasukan peralatan
masak ke dalam gazebo tenda. Setelah semua masuk, kami menutup tendanya dan
membuat semuanya menjadi nyaman.
Tak lama setelah semuanya nyaman, ada yang teriak dari belakang
tenda kami, tepat dari arah jalur pendakian
“assalamualaikum?!”
Aku sih kaget, gak tau yang lainnya gimana
“waalaikumsalaaam…. Bentar yaa” udah kayak di rumah aja, ceritanya siap-siap
mau jalan ke ruang tamu nyamperin tamunya gitu. Setelah aku buka resleting
tenda bagian luar
“haaaaaay!!! Sini sini siniii masuk dulu” sambil sibuk gatau
mau gimana soalnya posisi dalem tenda waktu itu bener-bener udah nyaman banget.
Ternyata mereka pasangan suami istri yang bertemu dengan kami di basecamp saat
kami keluar hendak melakukan doa sebelum perjalanan, Kak Dimas dan Kak Fita namanya.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk
menggeser tenda kami agar bisa berhadapan. Kami keluar semua menggunkana ponco dan menggeser kemudian
membantu memasang fly sheet. Beres. Kami seperti memiliki tetangga sekarang.
Saat masak sekitar jam 7 sampai jam 8, kakak tetangga kami
yang kebetulan sedang masak juga….
“hey? Hey? Ssstt. Ada itu, matiin, masukin semua makanan”
bisik-bisik sambil nunjuk kea rah belakang tenda kami
Kami langsung terdiam dan membisu sekitar 3 menit sampai
akhirnya pintu tenda berhasil tertutup tanpa makanan di luar dan sepertinya
hanya aku yang masih kebingungan.
“ada apa sih?” tanyaku kepada teman di sebelahku sambil
berbisik
“ada babi”
“ohiyaa?”
Kemudian kamipun mengatur posisi tidur-------- dan tertidur.
Tak lama setelah bermimpi aku terbangun karena teman di
sebelahku menggeserkan badannya dan kami semua terdiam karena terdengar sangat
jelas suara binatang sedang makan dengan lahapnya.
Dan benar saja, saat itu kami baru tertidur 2 jam, setelah
melihat jarum jam menunjukkan pukul setengah 11 malam. Dengan nekat, teman
lelakiku menyalakan headlamp-nya kearah suara dimana babi tersebut makan, dan
yap, sinar tersebut berhasil membuat babi tersebut kaget dan pergi.
Bah pahlawan, dia pun menyuruh kami untuk tidur dan
memutuskan untuk menjaga kami berdua.
Dan kejadian jam setengah 11 tadi terulang.
Dan terulang kembali. Lagi dan lagi.
Dari hanya satu “ngok…..”—suara babi—yang berada di samping
tenda kami, sampai “ngok……..ngok……..ngok…….” dari seluruh sudut tenda. Dari
hanya diawasi, sampai dikepung. Dari jam setengah 11, sampai jam setengah 3.
Heningnya malam itu sampai membuat suara napas kami seperti
napas babi di luar. Gesekan badan kami dengan benda lainnya dalam tenda seperti
langkah babi. Dan…. Tiap ada suara, kami langsung menoleh kearah suara itu
berasal sambil menghitung 1, 2, 3, dan menyalakan headlamp secara bersama-sama.
Kata teman laki-lakiku, babi ini sebelum datang ke tenda
kami, mereka mengawasi tenda kenalan kami di basecamp—anak kapakata—yang berada
di atas tak jauh dari tempat kamu mendirikan tenda, mereka berteriak
“wooy!!!!!!!!!!!”, kemudian babi tersebut turun ke bawah mengawasi tenda kami.
Kami mengikuti cara yang sama dengan teriak dan kami tetap
berada dalam kepungan para babi. Karena hanya aku yang berteriak saat itu. Dua
temanku yang lainnya hanya terdiam mengawasi dalam kegelapan dan heningnya
malam.
Pagi tiba. Dari suara bisikan, sampai suara tertawa
terbahak-bahak karena salah satu temanku bercerita
“akuma bingung ama si Vicky. Kita lagi panik dikepung babi,
dia malah nyenyak banget kayanya tidur sampe ngorok suaranya kaya babi. Aku
udah takut banget babi di luar pada denger dan bikin mereka mikir ‘di dalem ada
suara (mirip) babi juga, berarti di dalem ada makanan dan ada pintu masuk’ kan
kalo gitu gawat. Gimana coba kalau kita langsung di seruduk dari segala
posisi?”
“HAHAHAHHAHAHHAHHAHAHHAHHAHHA” aku ngakak
“Hahahhahahhahahahhaahhahahaa” dan mereka ngakak juga sambil
ngelanjutin cerita “rasanya pengen nampol, pengen nutup idung, tapi bingung.
Jadinya aku bangunin aja, kan?”
“HAHAHHAHAHHAHAHHAHAHHAHA” aku ngakak lagi
“Pagi aja pada heboh banget ketawa ama ceritanya, giliran
tadi malem aja pada diem kaya kutu mati”
Sumpah deh inituh kalau diceritain lucu banget bisa bikin
ngakak ampe keluar air mata. Tapi kalau kalian cobain rasanya ada dalam satu
tenda sama kita, jamin deh, rasanya bingung dan panic gatau harus ngapain,
rasanya udah pengen cepet-cepet ada matahari aja. Gatau deh kalau jadi aku
kayanya santai tidur nyenyak, plus ngorok…………….. hehhee.
![]() |
| Bolongnya tenda kami;( |
Setelah sinar di luar sudah memungkinkan untuk melakukan
aktivitas di luar, akhirnya kami pun keluar untuk masak-masak dan membereskan
tenda.
Setelah beres sarapan dan membereskan tenda, kami doa
bersama sebelum keberangkatan (bersama pasangan suami istri juga) dan tepat
pada pukul 08:00 kami pun melanjutkan perjalanan. Ohiya, kami pun tak lupa
menyembunyikan beberapa botol di semak-semak tempat kami mendirikan tenda,
untuk meringankan sedikit tas kami pada saat naik nanti.
“sampah taro sini aje biarin, buat makan babi” “eh trash bag
gaakan dibawa? Gapapa dah buat bobo babi” “sisa makanan taro aja disini, biar
babi enak makannya ntar malem” babi babi babi babi dan semuanya babi.
![]() |
| Gn. Sumbing |
Kata-kata pada denah yang diberikan oleh petugas di basecamp
sangat benar. Perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 ini benar-benar melelahkan,
karena jalan berbatu dan menanjak. Di setiap lahan agak luas, kami foto.
Takut-takut pos 4 tertinggal di belakang, karena menurut cirri-ciri yang
diberikan oleh petugas basecamp, ciri-ciri pos 4 hanya jalan berbatu dan
terbuka. Kami menakutkan pos 4 ini seperti pos 3 yang tidak ada plang
pemberitahuannya. Dan juga kami sudah melihat banyak tanaman edelweiss, jadi sudah dipastikan ini detik-detik menuju puncak. Karena tanda-tandanya hanya pos 4-padang edelweiss-hutan lamroto-puncak.
Mungkin ini?
Atau ini?
Ah udah lah mending makan jelly jelly yummy dulu
Ternyata, tak lama kami jalan, kami
baru menemukan plang bertuliskan “pos 4” pada sebuah pohon tak berdaun di
sebalah kanan dekat pohon besar. Cukup membuat patah semangat karena itu
berarti kita masih harus melewati 2 ciri-ciri jalan menuju puncak lagi. Hhhhft.
Saat itu jarum jam menunjukan puku 10:05
TERNYATA INI-_-
Fyi: pos 4 ini tempatnya benar-benar di lahan terbuka, ada
batu besar, dan lumayan luas. Pos 4 ini benar-benar berbeda dengan ke-3 pos
lainnya, karena disini benar-benar no sampah. Mungkin karena sangat tidak
disarankan untuk berkemah disini, jadi sampah pun tak ada.
Perjalanan dari tempat camp-pos 4 ini menghabiskan waktu 125
menit, jadi perjalanan dari pos 3-pos 4 adalah 155 menit.
Kaki kami sudah tak ada semangatnya sama sekali karena kami
sudah benar-benar merasa lelah sementara itu puncak pun tak kunjung kami pijaki. Cuaca pada saat
kami meninggalkan pos 4 menjadi tak bersahabat. Tiba-tiba hujan turun dengan
derasnya (sebenernya hujannya kecil, tapi rata. Ya lumayan deh buat baju basah
kuyup) alhamdulillahnya hujan yang turun siang itu tidak disertai angin besar
dan petir.
Bau belerang semakin menusuk dan mata pun sudah mulai terasa
perih. Kami berhenti lebih dari 3 kali menuju puncak ini. Karena jalan menanjak
sambil menutup hidung menggunakan masker itu rasanya amat sangat tidak enak
sekali, ditambah mata perih dan baju basah karena hujan. Sampai akhirnya kami
sampai di puncak tepat pada pukul 11:30.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!
![]() |
| PUNCAK |
Fyi: keadaan puncak saat itu berkabut dan kami tidak bisa
melihat keindahan kawah. So sad. Jadi kaya foto di studio terus pake efek blur gitu, kan, yah?
Jadi perjalanan dari pos 4-puncak ini menghabiskan waktu 85
menit.
Tak lama setelah kami foto-foto di atas puncak, kami turun
dan bertemu dengan tetangga semalam. Selang beberapa menit setelah kami
berjalan, kami bertemu dengan Mas Rauf dan Mas Nurcahyo.
“udah lebih dari jam 12 maaaas”
“hahaha iyaaa, gapapa mba, bentar doang”
Ohiya, himbauan untuk tidak meninggalkan barang sebelum
puncak karena dikhawatirkan kehilangan itu sangat benar. Karena kami sengaja
meninggalkan beras dan telor pada sebuah pohon sebelum pos 4 dan setelah kami
turun, ternyata sudah tak ada. Kalau diambil tetangga dan mas kapakata kayaknya
ga mungkin banget. Jadi? Wawlohualam deh.
Rata-rata kami turun menghabiskan setengah dari perjalanan
menuju puncak. Sedikit membuat telapak kaki sakit dan pegal-pegal, sampai kuku
jari manis kaki copot……….. hft.



















Tidak ada komentar:
Posting Komentar