Selasa, 17 Februari 2015

Pendakian Gunung Sindoro

Kami sepakat untuk mengawali cerita ini dengan berkumpul di kampus agar tidak ada barang yang tertinggal. Setelah pengecekan barang, makan siang, sholat dzuhur, dan dokumentasi di lakukan, akhirnya kami pergi dengan berjalan kaki dari student center menuju gerbang untuk naik angkot menuju Terminal Cicaheum.

Bis berangkat jam 5 sore dan kami sudah berada di terminal dari jam 3 sore. Cuaca hujan, gerimis, sampai akhirnya berhenti tepat sekitar jam setengah lima sore saat bis Sinar Jaya berhenti pada tempatnya dan kami pun mulai berjalan menuju bis tersebut untuk menaruh carrier dalam bagasi dan menaikinya.
Fyi: tiket bis Bandung-Wonosobo pake Sinar Jaya Rp70.000

Setelah telinga dibuat pusing sama pedagang dodol gorengan sabuk buku buah sosis pun akhirnya berangkat juga. Bismillah, semoga sampai tujuan dengan selamat dan gak macet.
Istirahat sekitar jam 10an dan sampai Terminal Wonosobo jam setengah 3 dengan selamat Alhamdulillah. Walaupun di tengah jalan supirnya nabrak kucing pas di roda bagian belakang. Gatau deh gimana kelanjutan ceritanya.

Setelah sampai termianal Wonosobo, kita masak nasi—supaya pas sampai basecamp kita tinggal masak lauknya aja gitu—dan galama setelah itu, “Sindoro Sumbing Sindoro Sumbing!” teriakkan knek bis sambil diikuti oleh suara kendaraan dari arah gerbang masuk terminal. Kami pun segera menghampiri bis tersebut
“ini mau ke Sindoro mas? Lewat Desa Kledung gak?”
“iyaa mba ayo ayo”
“berangkatnya jam berapa?”
“sekarang ini”
“oooh gak nunggu penuh dulu?”
“engga mba, langsung berangkat. Ayo ayo”
Kami pun bergegas membereskan nesting dan mengambil carrier.

Bisnya gesit. Satu per satu penumpang mulai masuk sampai akhirnya “Kledung, mba, Kledung nih Kledung” kneknya memberitau kami sambil membantu mengangkat carrier yang berada tepat pada bangku bagian belakang.
Fyi: naik bis mini dari Terminal Wonosobo-Desa Kledung Rp10.000

Ternyata benar, basecamp masih tutup dan kami memutuskan untuk menggoreng sosis, makan, dan sholat subuh dulu di masjid dekat basecamp.

Waktu buka sepatu dan masuk masjid, kaki berasa ada yang nusuk-nusuk gitu nembus sampai bagian punggung kaki. Air wudhunya juga terasa meresap sampai tulang. Gila. Dingin bgt.


Basecamp buka dan kami pun melakukan administrasi. Kami bertemu dengan 2 orang laki-laki yang berasal dari Kapakata, Yogyakarta. Mas Rauf dan Mas Nurcahyo, namanya. Lama kami berbincang karena petugas belum kunjung datang. Sampai kami mendapatkan informasi dari kedua lelaki tersebut bahwa disana nanti bakalan ada babi dan kayaknya informasi itu hanya masuk telinga kanan terus keluar lagi lewat telinga kiri. Karena saat kami melakukan administrasi, petugas tidak memberikan informasi mengenai hal tersebut.

Sambil packing ulang, kami sepakat untuk membuat sup krim, dan, gak habis, karena, ke, enceran. Sorry not sorry. Semuanya gara-gara aku sih yang terlalu nurut sama apa kata bungkus sup krim-nya  yang bilang harus masukin 3 gelas. Oke skip.

Tentu saja perjalanan kami mulai dari depan basecamp dengan berjalan kaki.
Jalan, jalan, jalan, jalan, rumah warga, rumah warga, rumah wara, perkebunan, perkebunan, dan akhirnya kami berhenti di tengah perjalanan untuk packing ulang karena carrier yang saya gunakan rasanya benar-benar membuat punggung pegal (re: berat bgt). Perjalanan melewati kebun ini rasanya seperti sedang berjalan dalam sebuah lukisan. Karena pemandangan belakang kami adalah Gunung Sumbing yang terlihat full. 
Gn. Sindoro

Gn. Sumbing
Batu Besar
Lanjut, lanjut, lanjut, lanjut, dan akhirnya kami pun sampai di batu besar. Tak berhenti lama, kamipun melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di pos 1.
POS 1
Fyi: pos 1 ini wujudnya seperti saung ada tempat untuk duduknya dari tumpukan tanah yang mengeras dan terdapat banyak sampah di bawahnya. Eww, bikin background foto jadi jelek aja.
Perjalanan dari basecamp menuju pos 1 ini menghabiskan waktu 65 menit.


Melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Tak jauh dari pos 1, kami menemukan pangkalan ojek dan berhenti sejenak untuk minum dan memotong batang pohong untuk dijadikan pegangan tangan saat berjalan. Karena medan menuju pos 2 ini sudah mulai berbeda dengan perjalanan dari basecamp-pos1 yang jalannya masih landai. Kami lupa berapa kali kami beristirahat untuk duduk duduk dan minum menuju pos 2 ini, sampai akhirnya kami sampai di pos 2.
POS 2
Fyi: pos 2 ini wujudnya sama kaya pos 1 tadi, ada saung dan banyak sampahnya. Bedanya cuman ada papan penuh dengan coretan gitu di bagian belakang saungnya.
Perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 ini menghabiskan waktu 90 menit.

Melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Mulai memasuki hutan yang benar-benar hutan sampai di tengah jalan kami akhirnya beristirahat agak lama setelah melewati hutan, di tempat sedikit agak luas dan pas belokan menanjak. Kami memakan nata de coco sambil beristirahat agak lama karena keadaan sudah semakin drop karena perut kosong dan cape.
Tak lama setelah kami duduk, ada suara seperti sekumpulan orang yang hendak turun dari atas, dan benar saja, ada banyak orang turun, berbeda kelompok tapi semuanya berasal dari Yogyakarta.
Dari kelompok pertama yang kami temui
“darimana mas?”
“dari atas”
“huhhhhh? Yakali”
“dari Yogyakarta mba. Mbanya darimana?”
“dari bawah”
“hahahhahaa”
“dari Bandung mas”
Ngobrol-ngobrol-ngobrol-ngobrol-ngobrol-ngobrol
“tadi pagi ke puncak jam berapa mas?”
“jam 6”
“terus sampe jam berapa?”
“cepet kok, sejam doang”
“oooh. Masnya emang ngecamp dimana semalem?”
“kita ngecamp diatas pos 3 mba, soalnya di pos 3 ada babi. Kemaren aja ada yang diganggu babi malem-malem”
“ohiyaa? Terus gimana?”
“ya gitu aja mereka diacak-acak”
“ooh jadi jangan ngecamp di pos 3 yah?”
“iyaa. Dari pos 3 ini nanti naik lagi aja. Sebelum sampai pos 4”
“tapi mas, kata mas mas di basecamp kan katanya kita gaboleh ngecamp ngelewatin pos 3. Soalnya anginnya gede. Gimana?”
“iyaa. Tapi ya kalau ada babi, gimana lagi?”
“tadi malem emang gak ujan?”
“uuuuh. Ujan mba. Gede banget”
“waaah, gaada petir tapi?”
“iyaah gak ada Alhamdulillah.”
“okedeh mas jadi ini ngecampnya jauh-jauh dari pos 3 gitu yah?”
“iyaa”
Diem-diem-diem-diem-akhirnya
“yok, mba, duluan yaa”
“yoo mas, hati-hati. Makasih yaa”
“monggoooo”
Gak lama kami ditinggal oleh mahasiswa UGM tadi, kemudian lewat kelompok yang lainnya
“darimana mba?” sapa kami
“dari Yogyakarta. Mbanya?”
“dari Bandung”
“ooh iya, mba, duluan yah”
“iyaa. Hati-hati yaah”

Tampak dari bawah sekelompok lagi masih terdiam di atas. Sepertinya mereka menunggu kami untuk naik terlebih dahulu. Kamipun naik dan saat bertemu kami mendapatkan informasi bahwa pos 3 ada di atas, tempatnya gak jauh dari tempat kami berhenti bertemu dengan kelompok terakhir yang berasal dari Yogyakarta tersebut. Intinya bentar lagi sampe. Tapi kenyataannya setelah kami jalan-jalan-jalan-jalan, rasanya jauh bgt, karena jalannya jauh lebih menanjak dari jalan yang sebelumnya dan medannya sudah berubah menjadi batu-batu besar. Akhirnya kami sampai di tempat yang luas yang merupakan ciri-ciri dari pos 3.
POS 3
(ini ngambil fotonya pas di ujung jadi gak keliatan luas dan kotornya)
Fyi: pos 3 ini wujudnya berbeda dengan pos 1 dan pos 2. Karena pos 3 ini benar-benar tempat khusus untuk camp, luas, tanpa tulisan dan tanpa saung. Tapi sama seperti pos 1 dan pos 2, pos 3 ini dipenuhi sampah-sampah. Kuantitasnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan pos 1 dan pos 2.
Perjalanan dari pos 2 menuju pos 3 ini menghabiskan waktu sebanyak 145 menit.

Mengingat saran dari mahasiswa UGM tadi, tak lama setelah dokumentasi akhirnya kami melanjutkan perjalanan dan kami memutuskan untuk berhenti setelah menemukan tempat yang bisa untuk didirikan tenda setelah 30 menit berjalan dari pos 3.

Setelah berhasil mendirikan tenda, hujan pun turun dan kamipun bergegas memasukan barang-barang ke dalam tenda dan memasukan peralatan masak ke dalam gazebo tenda. Setelah semua masuk, kami menutup tendanya dan membuat semuanya menjadi nyaman.

Tak lama setelah semuanya nyaman, ada yang teriak dari belakang tenda kami, tepat dari arah jalur pendakian
“assalamualaikum?!”
Aku sih kaget, gak tau yang lainnya gimana “waalaikumsalaaam…. Bentar yaa” udah kayak di rumah aja, ceritanya siap-siap mau jalan ke ruang tamu nyamperin tamunya gitu. Setelah aku buka resleting tenda bagian luar
“haaaaaay!!! Sini sini siniii masuk dulu” sambil sibuk gatau mau gimana soalnya posisi dalem tenda waktu itu bener-bener udah nyaman banget. Ternyata mereka pasangan suami istri yang bertemu dengan kami di basecamp saat kami keluar hendak melakukan doa sebelum perjalanan, Kak Dimas dan Kak Fita namanya.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk menggeser tenda kami agar bisa berhadapan. Kami keluar semua menggunkana ponco dan menggeser kemudian membantu memasang fly sheet. Beres. Kami seperti memiliki tetangga sekarang.
Saat masak sekitar jam 7 sampai jam 8, kakak tetangga kami yang kebetulan sedang masak juga….
“hey? Hey? Ssstt. Ada itu, matiin, masukin semua makanan” bisik-bisik sambil nunjuk kea rah belakang tenda kami
Kami langsung terdiam dan membisu sekitar 3 menit sampai akhirnya pintu tenda berhasil tertutup tanpa makanan di luar dan sepertinya hanya aku yang masih kebingungan.
“ada apa sih?” tanyaku kepada teman di sebelahku sambil berbisik
“ada babi”
“ohiyaa?”
Kemudian kamipun mengatur posisi tidur-------- dan tertidur.

Tak lama setelah bermimpi aku terbangun karena teman di sebelahku menggeserkan badannya dan kami semua terdiam karena terdengar sangat jelas suara binatang sedang makan dengan lahapnya.
Dan benar saja, saat itu kami baru tertidur 2 jam, setelah melihat jarum jam menunjukkan pukul setengah 11 malam. Dengan nekat, teman lelakiku menyalakan headlamp-nya kearah suara dimana babi tersebut makan, dan yap, sinar tersebut berhasil membuat babi tersebut kaget dan pergi.
Bah pahlawan, dia pun menyuruh kami untuk tidur dan memutuskan untuk menjaga kami berdua.
Dan kejadian jam setengah 11 tadi terulang.
Dan terulang kembali. Lagi dan lagi.
Dari hanya satu “ngok…..”—suara babi—yang berada di samping tenda kami, sampai “ngok……..ngok……..ngok…….” dari seluruh sudut tenda. Dari hanya diawasi, sampai dikepung. Dari jam setengah 11, sampai jam setengah 3.
Heningnya malam itu sampai membuat suara napas kami seperti napas babi di luar. Gesekan badan kami dengan benda lainnya dalam tenda seperti langkah babi. Dan…. Tiap ada suara, kami langsung menoleh kearah suara itu berasal sambil menghitung 1, 2, 3, dan menyalakan headlamp secara bersama-sama.

Kata teman laki-lakiku, babi ini sebelum datang ke tenda kami, mereka mengawasi tenda kenalan kami di basecamp—anak kapakata—yang berada di atas tak jauh dari tempat kamu mendirikan tenda, mereka berteriak “wooy!!!!!!!!!!!”, kemudian babi tersebut turun ke bawah mengawasi tenda kami.
Kami mengikuti cara yang sama dengan teriak dan kami tetap berada dalam kepungan para babi. Karena hanya aku yang berteriak saat itu. Dua temanku yang lainnya hanya terdiam mengawasi dalam kegelapan dan heningnya malam.

Pagi tiba. Dari suara bisikan, sampai suara tertawa terbahak-bahak karena salah satu temanku bercerita
“akuma bingung ama si Vicky. Kita lagi panik dikepung babi, dia malah nyenyak banget kayanya tidur sampe ngorok suaranya kaya babi. Aku udah takut banget babi di luar pada denger dan bikin mereka mikir ‘di dalem ada suara (mirip) babi juga, berarti di dalem ada makanan dan ada pintu masuk’ kan kalo gitu gawat. Gimana coba kalau kita langsung di seruduk dari segala posisi?”
“HAHAHAHHAHAHHAHHAHAHHAHHAHHA” aku ngakak
“Hahahhahahhahahahhaahhahahaa” dan mereka ngakak juga sambil ngelanjutin cerita “rasanya pengen nampol, pengen nutup idung, tapi bingung. Jadinya aku bangunin aja, kan?”
“HAHAHHAHAHHAHAHHAHAHHAHA” aku ngakak lagi
“Pagi aja pada heboh banget ketawa ama ceritanya, giliran tadi malem aja pada diem kaya kutu mati”
Sumpah deh inituh kalau diceritain lucu banget bisa bikin ngakak ampe keluar air mata. Tapi kalau kalian cobain rasanya ada dalam satu tenda sama kita, jamin deh, rasanya bingung dan panic gatau harus ngapain, rasanya udah pengen cepet-cepet ada matahari aja. Gatau deh kalau jadi aku kayanya santai tidur nyenyak, plus ngorok…………….. hehhee.  
Bolongnya tenda kami;(

Setelah sinar di luar sudah memungkinkan untuk melakukan aktivitas di luar, akhirnya kami pun keluar untuk masak-masak dan membereskan tenda.
Setelah beres sarapan dan membereskan tenda, kami doa bersama sebelum keberangkatan (bersama pasangan suami istri juga) dan tepat pada pukul 08:00 kami pun melanjutkan perjalanan. Ohiya, kami pun tak lupa menyembunyikan beberapa botol di semak-semak tempat kami mendirikan tenda, untuk meringankan sedikit tas kami pada saat naik nanti.
“sampah taro sini aje biarin, buat makan babi” “eh trash bag gaakan dibawa? Gapapa dah buat bobo babi” “sisa makanan taro aja disini, biar babi enak makannya ntar malem” babi babi babi babi dan semuanya babi.

Gn. Sumbing
Kata-kata pada denah yang diberikan oleh petugas di basecamp sangat benar. Perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 ini benar-benar melelahkan, karena jalan berbatu dan menanjak. Di setiap lahan agak luas, kami foto. Takut-takut pos 4 tertinggal di belakang, karena menurut cirri-ciri yang diberikan oleh petugas basecamp, ciri-ciri pos 4 hanya jalan berbatu dan terbuka. Kami menakutkan pos 4 ini seperti pos 3 yang tidak ada plang pemberitahuannya. Dan juga kami sudah melihat banyak tanaman edelweiss, jadi sudah dipastikan ini detik-detik menuju puncak. Karena tanda-tandanya hanya pos 4-padang edelweiss-hutan lamroto-puncak.
Mungkin ini?
Atau ini?

Ah udah lah mending makan jelly jelly yummy dulu
Ternyata, tak lama kami jalan, kami baru menemukan plang bertuliskan “pos 4” pada sebuah pohon tak berdaun di sebalah kanan dekat pohon besar. Cukup membuat patah semangat karena itu berarti kita masih harus melewati 2 ciri-ciri jalan menuju puncak lagi. Hhhhft. Saat itu jarum jam menunjukan puku 10:05
TERNYATA INI-_-
Fyi: pos 4 ini tempatnya benar-benar di lahan terbuka, ada batu besar, dan lumayan luas. Pos 4 ini benar-benar berbeda dengan ke-3 pos lainnya, karena disini benar-benar no sampah. Mungkin karena sangat tidak disarankan untuk berkemah disini, jadi sampah pun tak ada.
Perjalanan dari tempat camp-pos 4 ini menghabiskan waktu 125 menit, jadi perjalanan dari pos 3-pos 4 adalah 155 menit.

Kaki kami sudah tak ada semangatnya sama sekali karena kami sudah benar-benar merasa lelah sementara itu puncak  pun tak kunjung kami pijaki. Cuaca pada saat kami meninggalkan pos 4 menjadi tak bersahabat. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya (sebenernya hujannya kecil, tapi rata. Ya lumayan deh buat baju basah kuyup) alhamdulillahnya hujan yang turun siang itu tidak disertai angin besar dan petir.

Bau belerang semakin menusuk dan mata pun sudah mulai terasa perih. Kami berhenti lebih dari 3 kali menuju puncak ini. Karena jalan menanjak sambil menutup hidung menggunakan masker itu rasanya amat sangat tidak enak sekali, ditambah mata perih dan baju basah karena hujan. Sampai akhirnya kami sampai di puncak tepat pada pukul 11:30.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!
PUNCAK
Fyi: keadaan puncak saat itu berkabut dan kami tidak bisa melihat keindahan kawah. So sad. Jadi kaya foto di studio terus pake efek blur gitu, kan, yah?
Jadi perjalanan dari pos 4-puncak ini menghabiskan waktu 85 menit.

Tak lama setelah kami foto-foto di atas puncak, kami turun dan bertemu dengan tetangga semalam. Selang beberapa menit setelah kami berjalan, kami bertemu dengan Mas Rauf dan Mas Nurcahyo.
“udah lebih dari jam 12 maaaas”
“hahaha iyaaa, gapapa mba, bentar doang”

Ohiya, himbauan untuk tidak meninggalkan barang sebelum puncak karena dikhawatirkan kehilangan itu sangat benar. Karena kami sengaja meninggalkan beras dan telor pada sebuah pohon sebelum pos 4 dan setelah kami turun, ternyata sudah tak ada. Kalau diambil tetangga dan mas kapakata kayaknya ga mungkin banget. Jadi? Wawlohualam deh.

Rata-rata kami turun menghabiskan setengah dari perjalanan menuju puncak. Sedikit membuat telapak kaki sakit dan pegal-pegal, sampai kuku jari manis kaki copot……….. hft.

The end.



Jadi, rasanya pengen naik lagi kesana terus bawa papan yang banyak bertuliskan “KAWASAN BABI HERE, DILARANG KEMAH DISINI” atau “AWAS BABI GALAK” atau “TEMPAT PERHIMPUNAN BABI JAHIL” atau apapundeh, asli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar